Posted by: abufauzan | 19 Mei 2010

Akhlak terhadap Makhluk


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face {font-family:”Trebuchet MS”; panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:64.8pt 64.8pt 57.6pt 64.8pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Akhlak terhadap Makhluk

Adapun berakhlak baik terhadap mahluk, sebagian ulama menerangkan dan menyebutkan dari Hasan Al Basri bahwa berakhlak baik adalah : mencegah gangguan, mengerahkan kedermawanan, dan berwajah ceria.

Tiga perkara :Mencegah gangguan Dermawan Wajah berseri-seri

PERTAMA : Mencegah gangguan

Apakah makna “ Mencegah gangguan?”

Maknanya adalah bahwa seseorang mencegah (dirinya) untuk mengganggu orang lain, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, atau kehormatan. Barangsiapa tidak menahan dirinya dari mengganggu orang lain, maka ia tidak mempunyai akhlak yang baik, dan ia berakhlak jelek. Rasulullah r telah memberitahukan dihadapan sejumlah besar umat beliau r (ketika beliau r menunaikan haji wada’ :

“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dinegeri kalian ini” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah (menggunjing hal-hal yang jelek), maka hal ini bukanlah termasuk berakhlak baik kepada manusia, karena ia tidak menahan (dirinya) dari mengganggu orang. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakuakan kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar padamu. Berbuat jahat kepada kedua orangtua misalnya, lebih besar (dosanya) dari berbuat jahat kepada selain keduanya, dan berbuat jahat kepada karib kerabat lebih besar (dosanya) dari berbuat jahat kepada orang yang lebih jauh, dan berbuat jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari berbuat jahat kepada selain tetanggamu, oleh karena itu Nabi bersabda : “Demi Allah, demi Allah, demi Allah, tidaklah beriman, ditanyakan kepada Rasulullah : Siapa wahai Rasulullah ? beliau bersabda : orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.

Dalam riwayat Muslim :

“Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”

KEDUA : MENDERMAKAN KEDERMAWANAN

Makna “Dermawan” yaitu engkau mendermakan kedermawanan. Dan Kedermawan itu artinya bukanlah sebagaimana yang difahami oleh sebagian manusia, yaitu engkau mendermakan harta (hanya bermakna ini), tetapi yang dimaksud dermawan adalah mendermakan jiwa, kedudukan dan harta.

Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka, membantu mengarahkan mereka kepada seseorang yang mereka tidak mampu (menemuinya kecuali dengan perantaraannya) hingga berhasil (menemui) nya, atau menyebarkan ilmu diantara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia, maka kami mensifatinya sebagai orang yang berakhlak baik, karena ia mendermakan kedermawanan, oleh karena itu Nabi bersabda :

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kalian berada, ikutilah perbuatan jahat dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jahat, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Darimi)

Dan makna hal itu adalah jika engkau dianiaya atau dipergauli dengan perbuatan buruk maka engkau memaafkan. Dan sungguh Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang penghuni surga :

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran :134)

Dan Allah berfirman :

“Dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Baqarah : 237)

“Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada.” (An Nur : 22)

Dan Allah berfirman :

“Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (Asy Syuura : 40)

Seseorang yang berhubungan dengan manusia lainnya, mesti akan mengalami suatu gangguan, maka sepatutnya sikapnya dalam menghadapi gangguan ini adalah hendaknya memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa sikap pemaaf dan lapang dadanya dan harapannya untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat (dapat mengakibatkan) permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan. Allah berfirman :

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Al Fushilat : 34)

Maka apakah yang lebih baik ? bersikap buruk atau baik ? (tentu) bersikap baik, dan perhatikanlah wahai orang yang mengerti bahasa Arab, bagaimana datang hasil yang diperoleh dengan “idza Al fujaiyyah” yang menunjukkan kejadian langsung dalam hasil yang diperolehnya :

“Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Al Fushilat : 34)

Akan tetapi apakah setiap orang mendapatkan petunjuk untuk mengamalkan hal ini ?

Tidak, :

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Al Fushilat : 35)

Dan disini terdapat masalah :

Apakah kita memahami dari keterangan ini memaafkan orang yang berbuat jahat secara mutlak (merupakan tindakan) terpuji dan diperintahkan ? Akan tetapi, hendaknya kalian ketahui bahwa memaafkan itu akan terpuji, jika sikap memaafkan itu lebih terpuji. Maka jika sikap memaafkan lebih terpuji, maka sikap itu lebih utama. Oleh Karena itu Allah berfirman :

“Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (Asy Syuura : 40)

Allah menjadikan sikap memaaf diiringi dengan (kata) berbuat baik (pada ayat di atas). Maka apakah mungkin sikap memaafkan tanpa diiringi berbuat baik ?

Jawabannya : Ya, mungkin, terkadang seseorang berani dan berbuat aniaya padamu, dan ia seorang yang dikenal jahat dan berbuat kerusakan oleh manusia. Kalau engkau memaafkannya ia akan terus dalam perbuatan jahatnya dan berbuat kerusakan. Maka sikap apakah yang lebih utama dalam kondisi ini ? kita maafkan atau kita membalas kejahatannya ? yang lebih utama adalah membalas kejahatannya. Karena dengan sikap ini terdapat sikap berbuat baik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Memperbaiki itu wajib, dan memaafkan itu dianjurkan”.

Maka jika dalam sikap memaaf itu terlewatkan sikap berbuat baik, maka maknanya bahwa kita mendahulukan anjuran daripada kewajiban, dan hal ini tidak ada dalam syariat. Dan Ibnu Taimiyyah benar (semoga Allah merahmatinya)

Dan pada kesempatan ini saya ingin untuk mengingatkan atas suatu masalah yang dilakukan oleh banyak manusia dengan maksud berbuat baik. Yaitu suatu kejadian menimpa seseorang lalu orang lain meninggal disebabkannya. Maka datanglah keluarga terbunuh lalu meminta tebusan (sebagai pengganti hukuman mati) terhadap pelaku, maka apakah perbuatannya itu terpuji dan dianggap sebagai sikap berakhlak baik ? atau apakah dalam masalah ini ada perinciannya ? Ya benar, yang demikian itu ada perinciannya.

Kita harus memerhatikan dan memikirkan terhadap pelaku kejadian ini, apakah dia dari kalangan orang yang sudah dikenal dengan sikapnya yang ngawur (tidak hati-hati) ? ataukah dia dari orang yang berkata : “Aku tidak peduli menubruk seseorang, karena uang diyatnya (tebusannya) ada dilaci”. Kita berlindung diri kepada Allah dari yang demikian itu. Ataukah ia termasuk dari kalangan orang yang tertimpa kejahatan bersamaan dengan sikapnya yang hati-hati dan sadar akan tetapi Allah telah menjadikan sesuatu dengan ukurannya ? Jawabannya adalah : kalau orang ini dari bentuk yang kedua maka memaafkan adalah lebih utama, akan tetapi sebelum memaafkan (walaupun dalam bentuk yang kedua) wajib kita lihat apakah mayit meninggalkan hutang atau tidak ? jika meninggalkan hutang yang belum terbayar maka kita tidak mungkin memaafkannya.

Dan kalau kita memberikan maaf, maka pemberian maaf kita tidak dianggap. Dan masalah ini barangkali lalai darinya kebanyakan manusia, mengapa kita mengatakan bahwa sebelum memaafkan wajib kita melihat apakah mayit mempunyai hutang atau tidak ? Mengapa kita mengatakan yang demikian ?

Karena para ahli waris menerima hak tebusan dari mana ? dari mayit yang ditimpa kejadian, dan tidaklah hak menerima tebusan diberikan kecuali sesudah hutang mayit dibayar. Oleh karena itu tatkala Allah menyebutkan tentang warisan Dia berfirman :

“(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat” (An Nisa : 11)

Permasalahan ini tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang, oleh karena itu kami berkata : “jika terjadi kejadian atas seseorang, maka sebelum memaafkan pelaku kita lihat dulu keadaan pelaku perbuatan terlebih dahulu, apakah ia termasuk orang-orang yang ceroboh atau bukan ? dan kita melihat keadaan korban, apakah ia mempunyai hutang atau tidak ?

Intinya : bahwa termasuk berakhlak baik adalah dengan cara memaafkan manusia, dan ini termasuk sikap mendermakan kedermawanan, karena mendermakan kedermawanan itu bisa dengan cara memaafkan, atau menjatuhkan hukuman, atau menggugurkan hukum.

KETIGA : WAJAH BERSERI-SERI

Yaitu seseorang berwajah ceria, dan kebalikan berwajah ceria adalah bermasam muka, oleh karena itu Nabi bersabda :

“Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri” (hadits riwayat Muslim)

Berwajah ceria akan memasukkan rasa senang pada orang yang engkau jumpai dan orang yang berhadapan denganmu, mendatangkan rasa kasih sayang dan cinta, mendatangkan kelapangan dalam hati, bahkan mendatangkan rasa lapang dada bagimu dan orang-orang yang bertemu denganmu – cobalah niscaya akan kamu dapatkan ! - . Akan tetapi jika engkau bermuka masam, maka orang lain akan lari darimu, mereka akan merasakan ketidaksukaan untuk duduk denganmu serta berbicara denganmu. Dan boleh jadi kamu akan ditimpa penyakit yang berbahaya yaitu yang dinamakan dengan tekanan (batin). Karena berwajah ceria adalah obat yang mencegah dari penyakit ini, yaitu penyakit tekanan (batin). Oleh karena itu para dokter menasehati orang yang ditimpa penyakit ini untuk menjauhi dari hal-hal yang membangkitkan rasa marah. Karena hal itu akan menambah penderitaannya, maka berwajah ceria akan memusnahkan penyakit ini, karena manusia akan merasakan lapang dada dan dicintai mahluk.

Ini adalah tiga dasar, di mana pada tiga hal inilah berkisar sikap berakhlak baik dalam bermuamalah dengan mahluk.

Dan dari hal yang sepatutnya diketahui dalam berakhlak baik adalah bergaul dengan baik. Yaitu dengan cara seseorang bergaul dengan temannya, sahabatnya, karib kerabatnya dengan pergaulan yang baik, tidak membikin kesusahan dan kepedihan mereka, tetapi mendatangkan rasa gembira sesuai dengan batasan-batasan syariat Allah. Dan batasan ini haruslah batasan yang berdasarkan syariat Allah, karena diantara manusia ada orang yang tidak gembira kecuali dengan perbuatan maksiat kepada Allah, (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu), yang demikian tidak kita setujui. Akan tetapi memasukkan rasa senang kepada orang yang berhubungan denganmu dari kalangan keluarga, teman, karit kerabat adalah termasuk berakhlak baik, oleh karena itu Nabi bersabda :

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku (terhadap) keluargaku adalah orang yang terbaik diantara kalian”. (hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Dan sangat disayangkan banyak diantara manusia berakhlak baik kepada orang lain, akan tetapi mereka tidak berakhlak baik kepada keluarganya, ini adalah sikap yang salah dan membalikkan hak-hak, bagaimana mungkin kamu berbuat baik kepada orang-orang jauh dan berbuat jelek kepada kerabat dekat ? kerabat dekat adalah manusia yang paling berhak kamu berhubungan dan bergaul dengan baik. Oleh karena itu bertanya seorang lelaki kepada Rasulullah :

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku berbuat baik padanya ? Rasulullah menjawab : Ibumu, lalu ia bertanya lagi : lalu siapa ya Rasulullah ? Beliau menjawab : Ibumu, lalu lelaki itu bertanya lagi : lalu siapa ya Rasulullah ? Beliau menjawab : ayahmu”. Pada jawaban pertanyaan ketiga atau keempat. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Intinya : bahwasanya bergaul dengan baik kepada keluarga, sahabat-sahabat, kerabat terdekat, semua itu termasuk berakhlak baik. Dan sepatutnya kita di tempat ini (tempat syaikh Utsaimin menyampaikan ceramah) menampakkan keberadaan pemuda dimana kita membiasakan mereka untuk berakhlak baik, agar tempat ini menjadi tempat pendidikan dan pengajaran, karena ilmu tanpa tarbiyah (mendidik) terkadang mudharatnya (akibat jeleknya) lebih besar dari manfaatnya, akan tetapi bersama dengan tarbiyah, ilmu akan memperoleh hasil yang dituju. Oleh Karena itu Allah berfirman :

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Ali Imran : 79)

Ini adalah faedah ilmu, dimana manusia akan menjadi Rabbaniyyin artinya pendidik hamba-hamba Allah di atas syariat Allah.

Dan markas ini (tempat beliau ceramah), kami mengharapkan kepada pendirinya untuk menjadikannya sebagai tempat berlomba-lomba dalam berakhlak yang utama, diantaranya adalah berkahlak baik. Dan berakhlak baik bisa terjadi karena memang sudah tabiatnya atau karena mengusahakan untuk berakhlak baik (sebagaimana penjelasan lalu). Dan berakhlak baik karena memang sudah menjadi tabiat adalah lebih sempurna dari berakhlak baik karena mengusahakan untuk berakhlak baik. Dan kami telah mendatangkan dalil tentang hal ini yaitu sabda Rasulullah :

“Itu telah Allah ciptakan untukmu”

Dan berakhlak baik yang dihasilkan dari mengusahakan untuk berakhlak baik, terkadang banyak hal terlewatkan, karena berakhlak baik dengan cara berusaha akan membutuhkan latihan, sikap menderita dan menahan, serta mengingat (untuk sabar) ketika mendapatkan hal yang membikin marah dari manusia. Oleh karena datang seorang lelaki kepada Rasulullah berkata :

“Wahai Rasulullah, berikan aku wasiat, Rasulullah bersabda : janganlah kamu marah”

Dan Nabi bersabda : “Bukanlah orang yang kuat itu pegulat, tetapi yang dinamakan orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Apakah makna “as-sor’ahَ”?

“as-sor’ahَُ ” adalah seorang lelaki pegulat yang mengalahkan lawannya.

Bukanlah orang yang kuat itu pegulat, tetapi yang dinamakan orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah, yaitu orang yang bergulat dengan jiwanya dan menguasainya ketika marah itulah orang yang kuat.

Dan penguasaan manusia terhadap jiwanya dianggap termasuk dari akhlak-akhlak yang baik. Jika kamu marah maka janganlah meneruskan kemarahanmu, (tetapi) berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Jika kamu marah (dalam keadaan berdiri) maka duduklah, dan ketika kamu marah dalam posisi duduk maka berbaringlah, dan jika rasa marah bertambah maka berwudhulah hingga hilang darimu rasa marah.

Maksud dari apa yang katakana : bahwa berakhlak baik itu terjadi secara tabiat dan juga dari upaya untuk berakhlak baik. Dan berakhlak baik yang dihasilkan dari tabiat adalah lebih utama ; karena sudah menjadi suatu perangai pada manusia, dan ia akan mudah dalam segala keadaan (untuk berakhlak baik). Akan tetapi berakhlak baik yang dihasilkan dari upaya terkadang terlewatkan dalam beberapa kondisi.

Demikianlah kami katakan bahwa berakhlak baik dapat diperoleh dengan mengusahakannya, artinya seseorang membiasakan dirinya. Lalu bagaimanakah manusia dapat berakhlak baik ? manusia dapat berakhlak baik dengan hal-hal berikut ini :

Pertama :

Melihat dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah, (yaitu) melihat dalil-dalil yang menunjukkan terpujinya akhlak yang agung ini. Dan seorang yang beriman jika melihat nash-nash yang memuji tentang akhlak atau amal perbuatan maka ia akan berusaha mengamalkannya.

Kedua :

Duduk dengan orang-orang yang baik dan shalih yang dipercaya dalam keilmuan mereka atau amanat mereka, Nabi bersabda :

“Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. (Hadits riwayat Bukhari)

Maka wajib bagi kalian wahai pemuda, untuk berteman dengan orang-orang yang sudah dikenal berakhlak baik dan menjauh dari akhlak yang jelek, dan perbuatan yang hina, hingga engkau mengambil dari teman itu “madrasah” darinya engkau mendapatkan pertolongan untuk berakhlak baik.

Ketiga :

Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang buruknya, karena akhlak yang buruk itu dibenci, dan dijauhi, serta termasuk sifat yang jelek.

Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Rasuk-Nya baik secara dhahir maupun batin, dan mewafatkan kita dalam keadaan yang demikian ini serta melindungi kita didunia akhirat. Dan (melindungi) hati kita dari ketergelinciran sesudah Dia memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kepada kita rahmat-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pemberi.

Maraji’:

Posted by: abufauzan | 13 September 2009

MEMELIHARA FITRAH PASCA RAMADHAN

MEMELIHARA FITRAH
PASCA RAMADHAN
Oleh: Iwan Setiawan

Hadirin,
Tinggi rendahnya nilai ibadah shaum yang telah kita lakukan, sesungguhnya bisa dilihat dari ada atau tidak adanya perubahan pada diri kita setelah itu, artinya:
• Jika selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, Allah menyaksikan kita yang bangun diwaktu dini hari dan mendengar suara-suara istigfar kita; ..maka alangkah malangnya kita, bila hari setelah Ramadhan ini Allah menyaksikan kita yang tertidur lelap dawaktu dini hari, bahkan melewati waktu subuh, tubuh kita seperti bangkai yang tidak bergerak!
• Jika selama sebulan penuh di bulan Ramadhan bibir kita bergetar dengan do’a, dzikir dan kalimah-kalimah suci Al-Qur’an;..maka alangkah celakanya kita , bila sekarang kita menggunakan bibir yang sama untuk menggunjing, memfitnah dan menyakiti orang lain!
• Jika sebulan penuh di bulan Ramadhan kita melaparkan perut kita dari makanan dan miniuman halal disiang hari;..maka alangkah hinanya kita, bila setelah Ramadhan ini kita penuhi perut kita dengan makanan dan minuman yang haram.
Karena sesungguhnya bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah shaum;
• Jangankan memakan makanan yang haram, jangankan memakan makanan yang bukan hak dan bukan miliknya; bukankah memakan makanan yang halal dan milik sendiripun kita mampu menahan diri.
• Jangankan berhubungan apalagi selingkuh dan berbuat maksiat dengan isteri atau lelaki yang bukan hak kita; bukankah dengan suami atau isteri sendiripun kita mampu menahan diri dan mengendalikan diri!
Oleh karena itu, kita akan kembali kepada fitrah – kembali kepada kesucian, bahkan akan mendapat predikat:
“Kal yaumi waladathu ummuhu” ‘Persis seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya’
Tetapi jika seandainya shaum kita merupakan proses:
“tazkiyatun nafs” (Proses mensucikan diri):

“Berbahagialah orang-orang yang telah (menang) mensucikan jiwanya. Dan celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya”.

Hadirin,
Sesungguhnya ada salah satu pesan moral dari Ramadhan yang dewasa ini sudah mulai luntur dan dilupakan banyak orang sehingga pesan moral ini menjadi sesuatu yang langka dan mahal. Pesan moral tersebut yakni ’kasih sayang dan perduli terhadap sesama’.
Bahkan dari sekian nama yang diberikan oleh Allah, oleh Rasul dan juga oleh para Ulama terhadap bulan Ramadhan, diantaranya Ramadahan disebut sebagai ’syahru ar rahmah’ atau ’syahru al marhamah’ artinya bulan kasih sayang.
Sehubungan dengan kasih sayang ini, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat (kasih sayang) dari-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu Ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air (dari tempat yang sama). Dengan itu seluruh makhluk hidup”.

Hadirin,
Dalam kehidupan nyata; kita bisa menyaksikan binatang yang lemah sekalipun - contohnya seekor induk ayam yang lemah dan pengecut - tetapi tiba-tiba bisa berubah menjadi pemberani hanya karena dibawah sayapnya ia melindungi anak-anaknya yang masih kecil.
Atau sebaliknya, kita bisa menyaksikan binatang yang buas sekalipun - misalnya seekor harimau yang liar - tetapi tiba-tiba bisa berubah menjadi lembut dan penyayang ketika menjilati tengkuk anak-anaknya yang ia kasihi.
Hadirin, itu semua adalah tanda-tanda seperseratus rahmat Allah SWT yang dititpkan pada fitrah mereka.

Lalu kita lihat pada manusia:
Kita mungkin pernah melihat atau merasakan sendiri bagaimana seorang suami yang bekerja keras di perantauan, menguras keringat – membanting tulang. Dikumpulkan uang hasil keringatnya seperak demi seperak, lalu setelah memadai, dengan setia ia mengantarkannya kepada anak-anak dan istrinya.
Atau kita seringkali menyaksikan ada seorang ibu yang bermata cekung karena kurang tidur menunggui anaknya yang sedang sakit disampingnya; dan ia siap menyerahkan apapun yang dimilikinya asal dapat melihat anak terkasihnya sembuh dan tersenyum kembali.
Atau kita pernah merasakan sendiri bagaimana kasih sayang orang tua kita yang rela mengahabiskan seluruh usianya untuk membesarkan kita, mereka rela mengurangi makan dan minumnya supaya sanggup menyekolahkan kita sebagai anaknya. Kemudian, ketika kita berhasil; lulus sekolah – bekerja – kemudian menikah: maka ketika itu, orang tua kita akan terisak-isak menangis karena bahagia!
Hadirin, itu semua adalah ungkapan seperseratus kasih sayang Allah yang diberikan kepada fitrah kita.

Tetapi hadirin, berbeda dengan binatang, seringkali manusia tidak selalu berhasil memelihara fitrah kasih sayangnya. Seperseratus rahmat Allah yang dititipkan kepada hati nurani ini seringkali kita abaikan, bahkan kita lupakan.
Dalam perjalanan hidup, kita seringkali melupakan bisikan fitrah yang suci ini.
Sebagai contoh:
Bukankah kita sering mendengar seorang ibu yang membunuh anaknya? (atau sebaliknya)
Seorang suami yang menganiaya istrinya?
Majikan yang menyikasa pembantunya?
Masyarakat sekarang ini dilanda dengan penyakit yang disebut ’sensitif’. Mudah marah, resah, gelisah, bertengkar, berkelahi dan mudah saling menyalahkan. Hasil penelitian Depkes: dari 10 orang penduduk Indonesia, 3 diantaranya resah dan gelisah.
Kita termenung, kemana gerangan seperseratus fitrah Allah yang ada pada manusia?
Mengapa fitrah itu terlupakan?

Hadirin,
Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang bisa menghinakan kita, kecuali oleh diri kita sendiri, oleh amal perbuatan kita sendiri!
Wibawa seorang suami dimata isterinya, misalnya;
Wibawa seorang ayah dimata anak-anaknya,
Tidak akan luntur karena ia dihina dan dicaci maki oleh orang lain, tetapi ke-wibawa-an tersebut akan jatuh menjadi sangat hina: jika kita tidak mampu memegang amanah Allah berupa fitrah dan kasih sayang yang dititipkan kepada nurani kita!

Seorang isteri yang semula sangat takzim kepada kita,
Seorang anak yang semula begitu hormat kepada kita,
Tetapi mereka semua bisa berubah memandang rendah dan hina diri kita, jika seandainya kita menghianati amanah yang diberikan mereka kepada kita artinya menghianati rahmat Allah yang ditipkan kepada kita.

Hadirin,
Para Psikolog Modern menyebutkan: bahwa penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia dewasa ini adalah persoalan yang berasal dari lingkungan keluarga yakni Rumah Tangga!
Penyakit-penyakit masyarakat seperti: kenakalan remaja, free sex, penyalah gunaan narkoba dlsb; hampir semuanya berangkat dari lingkungan keluarga yang tidak Islami. Figur orang tua sudah tidak lagi menjadi panutan karena mereka mengabaikan rahmat Allah yang dititipkan kepada fitrah mereka, sehingga anak2 mencari figur panutan diluar sana yang akhirnya mereka menemukan figur yang menganggap bahwa kemaksiatan dan dosa adalah hal yang biasa bahkan merasa bahwa

Di dalam Islam, sebagaimana menurut hadits seperti yang disandarkan oleh Nabi sambungan dari pernyataan ‘kullu mauludin yuladu alal fitrah, beliau menyatakan bahwa seseorang itu menjadi penjahat dan orang yang berlumuran dosa adalah sebagai akibat dari pengaruh lingkungan. Dan lingkungan yang paling dominan membentuk karakter dan akhlak seseorang adalah lingkungan keluarganya, dan diantara keluarga yang paling besar atau dominan pengaruhnya adalah ‘abawaahu’ ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, di dalam Islam; setiap orang tua mempunyai tanggung-jawab untuk melakukan sesuatu dimana putra-putrinya harus lebih baik daripada dirinya, lebih sehat, lebih cerdas dan lebih sholeh daripada dirinya.
Karena sekecil apapun perbuatan anggota keluarga kita - sebagai orang tua – kita akan dimintakan pertanggung jawabannya dihadapan Alloh kelak di Yaumil Akhir.

Tags:

Posted by: abufauzan | 13 Januari 2009

Renungan

hj2.JPG

MUHASABAH AWAL TAHUN

Oleh: Abu Fauzan (Iwan Setiawan)

 

aku seorang lelaki biasa

ingin bercinta dengan si papa

berbagi kasih dengan si fakir

tetapi,

:kudahulukan kesenangan pribadi.

 

aku seorang lelaki biasa

kupeluk erat merah-putih

kugenggam burung garuda

kunyanyikan rayuan pulau kelapa

tetapi,

:kugerogoti lambung ibu pertiwi

 

aku seorang lelaki biasa

pada Allah dan Rasul mengaku cinta

tetapi,

:ingin harta dan kekayaan

:ingin kedudukan dan kekuasaan

:ingin tenar dan pujian

:ingin wibawa dan keinginankeinginan lainnya

 

aku tak tahu malu

berjalan dengan sejumlah aib

sambil berkhotbah

:adalah dosa membuka aib orang lain

 

aku tak tahu malu

dengan bangga kunyatakan

:Islam adalah Agamaku yang sempurna

tetapi,

:hidup tenggelam dalam maksiat dan kehinaan

 

aku tak tahu malu

dengan gagah kuikrarkan

:Al-Quran adalah pedoman hidupku

tetapi,

:kubaca dengan terbata-bata

:tak tahu pula arti dan maknanya

 

aku tak tahu malu

berjalan dengan sejumlah aib

kuhabiskan malam dipenghujung tahun

dengan menabur bunga pada tangistangis anak manusia

kulepas air mata ke segala arah

dari sini ke palestina, dari sini ke jalur gaza

dari sini ke seluruh penjuru dunia

tetapi,

:disini kuhirup kopi-susu panas

 

aku seorang lelaki biasa

berlama-lama sujud pada tahajjud

tak bosan meminta

tak bosan berharap

:setitik kasih-Mu

:sepercik rahmat-Mu

:seluas ampunan-Mu

 

(bandung mendung: dinihari)

Posted by: abufauzan | 20 Desember 2008

Halo dunia!

cimg2773.JPG

Inilah aku,…

 

yang terlahir sendirian - seperti akan sendirian kembali - tatkala kelak dijemput kematian.

 

yang menangis ketika baru dilahirkan - dan  berharap tersenyum saat bertemu kematian.

 

yang berlama-lama sujud: mengharap rahmat dan kasih sayang Tuhan………..

Categories